Sejarah

Desa Doudo (dalam bahasa setempat dilafalkan "Ndhudha") merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Panceng. Desa ini berbatasan dengan Desa Sekapuk Kecamatan Ujungpangkah di sebelah utara, Desa GedanganKecamatan Sidayu di sebelah tenggara, dan Desa Wotan Kecamatan Panceng di sebelah barat. Desa ini dihuni oleh sekitar 500 kepala keluarga, dengan sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani dan pekerja di luar negeri. 

Nama Doudo menurut legenda masyarakat setempat diambil dari nama pendiri desa, yakni Pak Dhudha. Makam dari Pak Dhudha sendiri menurut kepercayaan dikubur di Kuburan Sentana, yang dahulu merupakan kuburan yang dikeramatkan dan diupacarai dengan sedekah bumi tiap tahunnya. Saat ini, kuburan tersebut telah dibongkar karena dianggap menimbulkan unsur syirik bagi masyarakat, dan dialihfungsikan sebagai kantor kepala desa, setelah sebelumnya digunakan sebagai sekolah dasar. Namun dalam versi lain, ada yang menyebut Desa Doudo ini berasal dari bahasa Kawi, "doh" yang berarti jauh, dan "uda" yang berarti air, mengingat keadaan alam Desa Doudo sendiri yang sulit didapati air tanah.

Desa Doudo memiliki beberapa kebudayaan yang bisa dianggap sebagai kebudayaan unik, di antaranya:

  • Unsur penggunaan bahasa yang memiliki logat dan kosakata khas, yang diadaptasi dari berbagai bahasa. Umumnya kosakata tersebut diambil dari bahasa Jawabaku, dengan perbedaan pelafalan pada kata berakhiran -ih (yang dilafalkan -eh), -uh (yang dilafalkan -oh), serta beberapa kata berakhiran -i+konsonan (yang dilafalkan -iy+konsonan). Kosakata yang lain disinyalir diadaptasi dari berbagai bahasa, misalnya "pulampu" yang disinyalir diambil dari bahasa Sanskerta atau bahasa Tamil, "cembalin" yang diambil dari bahasa Melayu "penjalin", dan "kermit" yang diambil dari bahasa Inggris, "permit" (surat izin). Terdapat pula beberapa kosakata yang masih belum diketahui akar bahasanya, dan dimungkinkan merupakan bahasa asli, misalnya "brokohan" (makan pagi di sawah), dan "mbalon" (pesawat terbang).
  • Makanan khasnya yakni "rujak bumbu mentah", di mana posisi gula jawa sebagai bumbu rujak pada umumnya diganti dengan terasi dan petis. Selain itu, bumbu-bumbu yang ada tidak digoreng atau disangrai sebagaimana bumbu rujak pada umumnya. Campuran dari bumbu rujak ini bisa dipadukan dengan buah-buahan (jambu air, jambu batu, jambu monyet, mengkudu, pisang batu, bengkuang, nanas, dsb.) maupun dengan "blunyoh", sejenis timun laut mentah.
  • Tradisi "kondangan", yakni kunjung-mengunjung antar-warga pada saat malam hari raya (kecuali pada hari raya Ketupat dilakukan di pagi hari), dengan menyuguhkan tumpeng atau berkat kepada yang berkunjung.
  • Tradisi takbir keliling dengan membawa oncor(obor) dari pelepah pepaya atau bambu mengelilingi desa tiap malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, namun sekarang tradisi ini sudah bisa dianggap punah.